Sejarah Argo Parahyangan

Pada zaman dahulu Bandung masih berupa desa terpencil di pedalaman Tatar Sunda Parahyangan. Jalannya dikenal berliuk-liuk sulit untuk dilalui. Namun Pemerintah Kolonial Belanda akhirnya membangun jalur kereta api di Jakarta-Bandung pada 16 Mei 1886. Kemudian, pemerintah kolonial mengoperasikan KA Vlugge Vier (kereta ekspres jurusan Jakarta-Bandung). Kereta Vlugge Vier ini kemudian berubah nama menjadi Parahijangan. KA Parahjangan.Vlugge Vier tersebut sekelas dengan Eendasche Express yang kini bernama KA Biru Malam(BIMA).

Dalam perkembangannya, KA Parahyangan berubah nama menjadi KA Argo Parahyangan yang beroperasi Jakarta(GMR) - Bandung(BD). Jarak Gambir - Bandung yang mencapai 166 km dapat ditempuh dengan waktu rata-rata 3 jam - 3 jam 15 menit. Argo Parahyangan yang bernomor KA 19-38F. Kelas Eksekutif Satwa,Eksekutif Argo,dan Ekonomi AC Super Plus. Argo Parahyangan yang biasa ditarik oleh lokomotif CC206. Ada beragam rangkaian untuk Argo Parahyangan antara lain GOPARINA(Argo Parahyangan rangkian Harina),GOPARANI(Argo Parahyangan rangkaian Sembrani),GOPARRANGGA(Argo Parahyangan rangkaian Turangga),Rangkaian Reguler,Rangkaian Fakultatif.

Pemandangan alam daop II yang indah dapat menemani saat kita menggunakan moda transpotasi Kereta Api Argo Parahyangan.



Sejarah Argo Parahyangan Sejarah Argo Parahyangan Reviewed by Agnes Sabila on June 28, 2017 Rating: 5