Header Ads


Asal Mula Halal Bi Halal, Bung Karno dan KH Wahab Chasbullah


Pasca perayaan Hari Raya Idul Fitri 1438 H ini pasti akan banyak bermunculan acara halal bi halal di berbagai daerah, baik itu di daerah perkotaan maupun di pedesaan. Namun tidak banyak yang tahu, bagaimana sejarah munculnya halal bi halal di Republik Indonesia yang kaya ragam budaya ini. Apakah halal bi halal itu merupakan tradisi muslim di Timur Tengah atau hanya tradisi masyarakat di Indonesia saja? Dari tulisan KH Masdar Farid Mas’udi terungkap bahwa  halal bi halal ternyata bukan tradisi muslim di Timur Tengah, tapi hanya tradisi masyarakat di Indonesia saja. Sejarah munculnya tradisi halal bi halal ini konon tak lepas dari peran KH Wahab Chasbullah dan Bung Karno.


KH Masdar Farid Mas’udi menuturkan bahwa munculnya istilah "halal bi halal" berawal dari gagasan KH Abdul Wahab Chasbullah setelah dimintai saran oleh Presiden RI Pertama Soekarno. Disebutkan, pasca Indonesia merdeka 1945, Indonesia pernah dilanda gejala disintegrasi bangsa. Hal itu terjadi pada tahun 1948. Kala itu, para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum.

Kemudian, pada dipertengahan bulan Ramadhan 1948, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab saat itu sebentar lagi akan datang Hari Raya Idul Fitri. Kala itu, seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

"Itu gampang", kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah 'halal bi halal'", jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul 'Halal bi Halal' dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah "Halal bi Halal", meskipun esensinya sudah ada.

Tapi istilah "halal bi halal" ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl "yujza'u" bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.(***)

SUMBER: KH Masdar Farid Mas’udi (NU Online | Jumat, 17 Juli 2015)
Powered by Blogger.